Minggu, 10 Juli 2011

Menguak Episode terakhir Prostitusi


MENGUAK  EPISODE  TERAKHIR PROSTITUSI
---------------------------------------------------------------
Oleh : Mr.YAN JEPE SANG EDUKASI
Pemerhati masalah social tinggal di Lampung Selatan

Ada kebaikan yang tak mudah dilakukan, ada keburukan yang tak sulit dilakukan. Sebab manusia memiliki karakter yang mudah – mudah sulit dan yang sulit – sulit mudah. Itulah hidup adalah lakon yang memerankan sebuah peran didalam sinetron kehidupan yang diatur oleh Sang Maha Sutradara. Tinggal bagaimana kita mampu berimprovisasi terhadap apa yang tersurat dan tersirat didalam scenario sedemikian sehingga kita tidak
terpaku pada alur cerita nasib yang nota bene tidak tak berubah. Seperti juga cerita bak sinetron yang berjudul “ Pantai harapan dan Pemandangan “ yang kini sudah habis masa putarnya. Sebab episode terakhir sudah kelar. Perjalanan panjang dari cerita prostitusi
di dua lokalisasi itu telah usai ( masa tayang dihentikan )
Ibarat kapal layar yang selama ini berlayar disamudra kemaksiatan yang menjadi langganan untuk dinaiki oleh para hidung belang. Kini surat ijin berlayarnya telah dicabut dengan paksa oleh pejabat berwenang yang mengatasnamakan kebaikan dan pembinaan
kejalan yang benar. Lalu pada kemana mereka ? Baik para penjaja cinta sesaat dan penikmat nafsu sesaat. Bertobatkah mereka? Jawabnya belum tentu sebab ibarat penyakit
sudah merasuk mendarah daging sehingga tidak mudah untuk disembuhkan.
Kini mereka tersebar ada yang lari kekota lain atau masih dikota ini namun tidak menetap disatu tempat. Dan yang pasti dikeramangan lapangan Saburai dipusat kota Bandar Lampung mereka mangkal. Setiap malam mereka berdiri berjajar bak model yang menawarkan kemolekan tubuhnya . Juga dihotel – hotel Melati masih bisa dipesan.
Sungguh teramat sulit memberantas penyakit masyarakat itu, sebab itu sumber kehidupan bagi yang terpaksa
.Dan kebebasan pergaulan anak muda era kini sungguh sudah sangat memprihatinkan. Penganut paham “ free sex “ mulai merambah kearea inteletual muda yang namanya pelajar ataupun mahasiswa. Pengaruh budaya barat sangat dominant menguasai pergaulan zaman kini. Adanya kecanggihan internet yang teramat mudah dibuka yang penting punya computer yang harganya sudah sangat terjangkau.
Inikah kemajuan zaman ? Karena tehnologi hard ware dan soft ware semakin mudah
dipahami.
Apalagi para pelaku usaha begitu  mengobral internet dengan menyewakan penggunaan internet perjam yang teramat murah.Sehingga menarik minat masyarakat untuk mengetahuinya. Sudahkan para pelaku usaha mensensor pengguna internet sesuai dengan
klasifikasi umur?. Atau bebas yang penting sewa perjam dibayar. Mau dibawa kemana
generasi muda akan datang. Apakah pejabat berwenang telah melakukan sidak kepada tempat-tempat penyewaan internet ( warnet )? Jika belum tidak ada kata terlambat untuk menertibkan warnet – warnet agar dilakukan blokir pada situs – situs tertentu yang membawa dampak buruk pada generasi muda. Jangan Cuma memberantas para PSK
yang ada dilokalisasi maupun lapangan Saburai saja. Sebab tindakan preventif itu lebih baik dari pada kuratif. Jangan mengobati masyarakat yang sudah terkena penyakit tapi lebih baik mencegah masyarakat agar jangan sampai terkena penyakit itu. Sebab ada pelajar atau mahasiswi yang menjadi panggilan terselubung. Karena terpaksa sudah kepalang basah akibat terlalu bebas bergaul atau karena tekanan ekonomi .

Peran orang tua sangat penting untuk mencegah dan mengawasi anak – anaknya . Karena
Sekarang ini computer ataupun laptop sudah menjadi kewajiban orang tua untuk menyediakan anak-anaknya karena tuntutan zaman agar tidak ketinggalan. Akhirnya benar bahwa anak – anaknya tidak ketinggalan semenjak diberikan computer/laptop
bahkan sangat “ maju “ , sampai – sampai dia lebih dewasa dari pada umurnya karena
sudah mengetahui lebih dahulu “pelajaran” yang belum saatnya diterima sesuai umurnya.
Anak – anak menjadi matang sebelum waktunya dan akhirnya coba – coba. Inilah awal
petaka yang akan menjerumuskan pergaulannya. Warning untuk para orang tua.
Sungguh sangat “ miris “ bila hal ini akan dibiarkan terus berlangsung tanpa ada yang
peduli untuk mencegahnya. Sebaiknya perijinan usaha warnet diperketat dengan catatan-catatan yang melarang situs – situs tertentu dibuka oleh sembarang umur.
 Dan para orang tua jangan terlalu mudah membebaskan anak-anaknya membuka internet situs-situs yang tidak diblokir. Seperti kata pepatah, janganlah takut akan suramnya matahari tapi takutlah akan suramnya masa depan anak – anak kita.  Sebagai
agent of change (generasi penerus bangsa.).

Kita acungkan jempol untuk tindakan aparat yang telah berhasil menjaring para wanita
pekerja sex  yang akhirnya diserahkan ke panti rehabilitasi dibawah naungan dinas social.
Sebaiknya jangan ada kata tilang ( dengan system denda ) yang jumlah sangat terjangkau
Bagi siapapun yang terjaring wajib dimasukan ke panti rehabilitasi untuk dilakukan pembinaan moral dan pemberian ketrampilan untuk minimal 3 bulan.


Ada bebera cara membuat jera para wanita pekerja sex dan para hidung belang setelah
ditangkap yaitu :
  1. Memanggil orang tuanya bagi yang masih single/ bujangan.
  2. Memanggil istri/suami bagi yang sudah menikah.
  3. Memuat foto mereka pada Koran harian di lampung.
  4. Menayangkan wajah – wajah mereka dilayar televisi local lampung.
  5. Memasukan di panti rehabilitasi khusus PSK..

Sehingga bisa dilihat banyak orang otomatis mereka akan malu luar biasa sehingga jera untuk mengulang dan yang belum melakukan akan berfikir panjang. Kita mencoba menanamkan budaya malu untuk berbuat asusila.
Beranikah aparat melakukan seperti tersebut diatas? Meskipun akan menuai banyak protes namun demi kebaikan sebaiknya jalan terus. Berbuat amar makruh nahi munkar itu memang tidak mudah. Agar tidak salah langkah kalau perlu dibuatlah Perdanya sehingga
lebih optimis untuk memberantas kemaksiatan.
Wake up para wakil rakyat dan wake up para pejabat yang berwenang menangani masalah ini. Kapan lagi berbuat kebaikan?.

Meski episode terakhir prostitusi pantai harapan dan pemandangan telah digelar            namun seyogyanya aparat lebih intensif melakukan razia diberbagai tempat tampa kompromi. Adakah kiat lain untuk mengembalikan mereka kepada kehidupan bermasyarakat?. Jika para pengusaha mau membuka peluang usaha bagi eks PSK
 seperti usaha konveksi ,salon dan  pabrik – pabrik kemasan yang tidak membutuhkan
keahlian khusus,


Mari kita tunggu gebrakan apalagi yang akan dilakukan oleh aparat berwenang untuk
membersihkan penyakit masyarakat ini. Mudah – mudahan lebih konsisten dan berkesinambungan terus.
Jangan pernah ada kata putus asa meski sejarah hitam telah lahir semenjak zaman dulu kala dan teramat sulit untuk dieliminir. Dan kita jangan menyerahkan kepada aparat saja tapi sumbangsih peran kita untuk turut mencegah, mengawasi dan memberantas dengan
cara yang tidak anarkis. Sebab kita bukan memberantas kejahatan sehingga diperlukan
tindakan yang bijak dan berperikemanusiaan.Siapa lagi yang bisa memanusiakan manusia
jangan sampai ada tindakan membinatangkan manusia.Sila kedua Pancasila harus kita tegakkan. Jika seluruh elemen masyarakat dan aparat saling menjalin kebersamaan untuk satu tekad membersihkan kota ini dari segala bentuk prostitusi, niscaya akan tercapai.

Sebagai kata terakhir penulis ingin bertanya : Adakah  keenakan bila hidup diliputi kemaksiatan ? Adakah kenyamanan bila hidup diselimuti kemaksiatan ? Adakah kedamaian datang di dalam ruang hidup yang ditutupi kemaksiatan ?

***

Tidak ada komentar: