“ OASE DI PADANG GERSANG “
---------------------------------------------
Oleh : YAN JEPE SANG EDUKASI
---------------------------------------------
“ ADA SEONGGOK JIWA MELAYANG
JATUH
PUN IA MASIH SEMPAT MENGGAYUT ASA
MENUNGGU ASTA SUCI KAN MERENGKUHNYA
LEMBAR JIWAKU PUTIH
KOSONG
TAK TERSENTUH BELAIAN ASTA MAHA INDAH
ADA YANG TERLEPAS
TERCECER
TAK MAMPU KUUTUHKAN KEMBALI “
Bila setelah membaca rangkaian kata diatas kamu mendapatkan “ sesuatu “ , maka yakinlah bahwa “ sesuatu “ itu kamu dapatkan karena adanya “ sesuatu “ diluar empiris kita yang memberi Rahmat dan Karunia.. Sebaliknya bila kamu tidak mendapatkan “ sesuatu “ , maka tetap yakinlah bahwa pencipta rangkaian kata diatas bukanlah pemberi “ sesuatu “ .
Begitu penasaran berungkali tulisan itu kubaca didalam surat yang diberikan padaku oleh seseorang yang selama ini telah membuatku fall in love. Dia adalah Kak Tevin mahasiswa fakultas tehnik Sipil semester akhir yang kebetulan teman akrab kakaku Alan. Karena seringnya dia kerumah belajar bersama dengan kakakku membuat hatiku terpaut. Dan sepertinya dia juga menaruh perhatian padaku, meskipun belum pernah mengungkapkannya.
Hubungan dia dengan keluargaku sangat akrab sudah seperti anggota keluarga saja,selain sering diajak makan bersama juga bila keluargaku ada acara tamasya keluar kota maka dia selalu diajak .Maka tak heran jika hubunganku dengannya terjalin baik .Dan kami sering melakukan jalan bersama dari mulai jalan – jalan ke Mal ataupun makan bersama di Restoran Pizza .Entah sudah berapa kali kami saling kirim surat untuk sekedar curhat
namun surat yang terakhir ini membuatku ada sesuatu yang mengiris hatiku. Sungguh suatu rangkaian kata yang teramat bermakna yang tak mampu kuartikan sehingga membuatku penasaran.
Aku hanya bisa menduga tentang diri Kak tevin. Apakah pernah putus cinta atau ditinggal seseorang yang teramat berarti didalam hidupnya. Atau kemungkinan karena ditinggal pergi untuk selamanya kedua orang tuanya dan satu adik perempuannya. Karena gempa Liwa yang telah merenggut keluarganya?. Peristiwa alam yang sangat memilukan telah merenggut orang yang selama ini menjadi tumpuhan hidupnya..Semua tanya itu menjejali pikiranku. Kak Tevin berjuang sendiri untuk menghidupi diri sendiri dan meneruskan kuliahnya dengan biaya yang dia cari sendiri. Dia kuliah sambil bekerja di sebuah perusahaan kontraktor bangunan .Sungguh luar biasa tekadnya dan itulah salah satu yang membuatku jatuh hati.
***
Pagi ini mata kuliah Hukum Perdata kosong karena dosennya tidak datang hanya asisten dosen yang menggantikannya dan memberikan literature untuk di foto kopi agar dipelajari dirumah. Maka kamipun membubarkan diri keluar kelas. Kita tidak perlu protes sebab itulah bias dari globalisasi. Dimana guru Umar Bakrie sudah menjadi bisnismen. mana cukup mengandalkan gaji dosen ?
Makanya perlu kreatifitas, nyambi sana nyambi sini dengan part time job dapat mendukung perekonomian keluarga. Masalah dedikasi , loyalitas telah membaur dalam kepintaran mengalokasikan waktunyauntuk mendapatkan tambahan penghasilan.
Untuk mengisi kekosongan waktu sambil menunggu jam mata kuliah berikutnya, maka kulangkahkan kakiku bersama teman karibku Rania ke kantin untuk mengisi perut keroncongan karena tadi pagi gak sarapan.
Ditengah asyiknya aku menyantap semangkok mie ayam tiba – tiba datang dari arah belakang .” hai girl ! “ sapanya dengan suara yang khas yang selama ini kukenal akrab ditelingaku. Siapalagi kalau bukan si idaman hati Kak Tevin, yang langsung mengambil kursi duduk disamping kiriku . “ Mang nasi goreng satu !” teriaknya kepada Mang Dul pemilik kantin..
“ Belum sarapan ya Kak ? “ tanyaku sambil mengelap pinggiran mulutku pakai tissue karena terkena saos sambel. “ Udah tadi sarapan angin ..” jawabnya senyam senyum.
“ Gak ada kuliah Kak ? “ tanyaku kemudian. “ Ada sih, cuma kalau perut kosong mana bisa konsentrasi mendengar kutbah sang dosen” . “ Emang kuliah subuh pakai kutbah ? “
selang Rania yang dari tadi asyik makan bakso yang duduk disamping kananku.
Ya gitulah ! Sebab kita ini sebagai mahasiswa seperti pesilat yang harus nurut dicekoki
ilmu oleh sang Suhu biar kelak jadi pendekar mumpuni di dunia persilatan. Begitu pula mahasiswa dijadikan sarjana yang siap pakai, walaupun nyatanya sebaliknya tinta hitam tertempel dijidatnya bahwa sarjana baru tidak siap pakai. Persepsi ini realitasnya dipertanyakan.
Kalau benar , sungguh sangat menyedihkan bahwa sarjana baru telah mengalami degradasi intelektualitasnya “ begitu antusiasnya dia bicara selayaknya memberi nasehat kepada kami. “ Udah deh Kak makan dulu tuh ! “ pintaku setelah Mang Dul mengantarkan sepiring nasi goreng pesananya. Dan diapun langsung menyantapnya
penuh semangat , mungkin sudah teramat lapar tak tertahankan.Akupun sementara asyik menghabiskan mie ayamku yang tinggal beberapa sendok.
“ Justru itu Kak tantangan kita untuk menghapus predikat sarjana tak siap pakai “ kataku kemudian setelah menghabiskan makananku. “ Bagus kalu kamu memiliki keyakinan itu, semoga kelak kamu menjadi sarjana Hukum yang berani membela yang benar dan menghukum yang salah. Jangan sampai salah kaprah menggadaikan kebenaran dengan iming-iming materi. Sebab sekarang sulit memilih dan memilah antara baik buruk sudah saling terkait.”
***
Bergantinya sinar mentari menjadi sinar rembulan menyeret pula sang waktu bergulir hingga tiada terasa sudah beberapa bulan berlalu, namun aku belum menemukan makna rangkaian kata-kata yang telah ditulis Kak Tevin pada surat terakhirnya. Sampai pada sore itu aku bertemu kembali diperpustakaan campus lalu kita mengambil tempat duduk
disudut ruangan .Sambil membolak balikan buku Tata Hukum Pidana kuberanikan diri untuk mengorek penjelasanya. “ Kak jelasin dong apa makna rangkaian kata yang ditulis
disurat terakhir itu ? “
“ That’s life and life is a puzzle. The puzzle which has no answer is dictiornary or encyclopedia is Love. Because the answer is only found in the unframe transparent mirror in the deep heart. And only dream that I would find “ jawabnya sambil memandangiku penuh arti. Akupun terkesimah sesaat kemudian sambil memperhatikan bola matanya yang menyimpan sesuatu. Kupahami maksud kata – katanya . “ Belum saatnya tiba Kak “
mulutku berkata bergetar menahan gejolak ada sesuatu yang menusuk nusuk dadaku.
“ Ya, sebab aku sering terhenti dipersimpangan jalan kemana sebaiknya kakiku melangkah. Ada keraguan yang menyendati keinginanku.” dengan sedikit sendu dia seakan ingin melepaskan sesuatu beban entah apa aku belum tahu.
“ Kak Tevin belum menemukan jalan atau belum bisa meyakinkan diri untuk memastikanya ? “ tanyaku kemudian kala kulihat ada keraguan disembunyikan dibalik raut wajahnya.
“ Ada jalan yang ingin kutiti namun aku masih termangu tuk melangkahnya “ Kulihat dia menghela nafas panjang.
“ Cobalah Kakak melangkah pada jalan yang diyakini ada sesuatu yang dapat ditemukan keoptimisan hidup selanjutnya . Perlu kubantu untuk menemukannya ?”.Akupun menawarkan diri .
“ Apa kamu yakin bisa membantuku ? “ jawabnya sambil menyungging senyuman yang aduhai manis sekali. “ I will try ! “ jawabku meyakinkanya.
“ Kalau begitu tanyalah pada hatimu paling dalam, adakah kamu menyimpan sesuatu itu?
Sebelum sempat aku menjawabnya dia telah beranjak dan langsung pamit untuk urusan lain dan meninggalkanku sendiri yang masih terbengong- bengong bingung mengartikan makna kalimatnya yang barusan terucap tadi. Memang dia penuh misteri dan aku telah terjerat dalam lingkaran simpati yang kucipta sendiri.
***
Ternyata memulai sesuatu keinginan tidak semudah kaki melangkah, masih ada keraguan yang menghambat niat manusia. Begitulah yang terjadi padaku yang berharap dapat menjalin benang-benang kasih bersama Kak Tevin untuk mengisi lembaran hidup yang masih putih. Tak terduga malam minggu ini sungguh teramat berkesan karena Kak Tevin
mengajakku dinner di Resto Blue Sky yang cukup terkenal dikota ini. Tempat kencanya para elite pergaulan kawula muda, karena tempatnya prestisius sungguh bergengsi.
Tentunya harus pesan meja dulu sebelumnya agar dapat tempat sesuai yang diinginkan.
Kamipun sudah duduk disudut remang dan menu sudah dipesan, beberapa saat kami saling diam. “ Tania, sudah kamu temukan sesuatu itu ? “ tanyanya setelah menghembuskan asap rokoknya diudara. “ May be yes if it’s a love “ jawabku deg-degan entah kenapa malam ini tidak seperti malam-malam yang lalu, kurasakan gejolak dihati ini makin menggebu. “ Listen Tania, When I see you for the first make me falling in heart. I hope you know exactly how I feel… and I want to be with you in the sunnys days. Would you mind being my some one ? “ sambil memegang kedua telapak tanganku dia menatap mataku dan akupun tak mampu menjawabnya . Oh my God ! Inilah saat yang kunantikan selama ini. Akupun ingin bersamamu dalam hari-hari yang ceria batinku mulai berbunga-bunga. Ada setetes air bening mengalir dari sudut mataku dan kubiarkan ketika jemarinya menyaput air mata dipipiku. Air mata keharuan telah luruh disertai kelegaan hati yang menemukan jawaban.. Malam ini sungguh menjadi malam yang sangat berarti dalam hidupku akan kuukir didinding hati agar tak terlupakan.
Malampun telah berganti pagi kujelang hari penuh keceriaan selimuti hati dan kala matahari sepenggalah tiba-tiba ada kiriman paket bunga mawar merah disertai segulung kertas terikat ditangkainya. Kuterima dengan hati berdebar debar dari siapa gerangan ?
Ternyata dari Kak Tevin langsung kuciumi harumnya aroma semerbak dan segera kubuka gulungan kertas yang menyertainya. Mulai kubaca apa yang tertulis
Tania yang baik,
Nyatanya tak mudah merengkuh sesuatu dalam hati yang gundah, meski aku telah merangkaki kemarau panjang bersama asa yang kugayutkan pada ranting kering patah.
Aku terjerembab dengan wajah berhias debu, pun aku masih berusaha menggapai gapai
Tiba – tiba kamu datang mengulurkan setetes embun kasih yang tulus terpancar dari sinar matamu. Kurasakan itu sebagai suatu anugerah tak ternilai…
Tania yang baik,
Nyatanya aku telah menemukan sesuatu yang kucari selama ini ada dalam dirimu.
Sesuatu sinar penerang yang menuntunku didalam kegelapan.
Biarkanlah aku bersamamu menyusuri jalan terjal berliku dan jangan ada yang mengusik selagi bahagia menemukan oase dipadang gersangku yang lama kerontang. Kini menjelma kesejukan membelaiku selembut cinta yang teduh dipelabuhan hati yang damai
Dari yang menyayangimu , Tevin.
Deg ! sesaat detak jantungku terhenti dan ada sesuatu yang menyeruak keluar dari dadaku melayang kelangit mengawan membawa jiwaku , kurasakan diri ini menjadi ringan melangkahkan kaki tuk menemui secepatnya seseorang yang telah membuatku melambung tinggi…Kusibakan awan – awan dilangit angan nyatanya aku terhadang mendung menutupi pandangku menjadi gelap gulita dan tak terasa air mata begitu deras mengalir tertumpah menyirami bumi.Aku telah terhenti karena sejuta tangan menahanku untuk melangkah mendekat pada kerumunan orang yang berbaju serba hitam dan wanita berkerudung hitam. Jerit tangisku menyeruak kerumunan lalu lalang orang menatapku heran. Ku tak pedulikan karena kuharus temui meski yang terakhir kali.
Seseorang yang telah menyemai cinta dikehidupanku. “ Kak Teviiiiiiiiiiiiin !!!” teriaku histeris kala sebaris orang memikul keranda terus berlalu tanpa memperdulikanku.
Ternyata aku telah kehilangan seseorang yang teramat kusayang, hidupnya telah terenggut oleh Sang Pencipta. Dia tewas seketika dikala motornya tertabrak oleh sebuah
mobil yang melaju kencang dijalanan. Saat itu dia baru pulang dari tempat jasa kurir untuk mengirimkan seikat kembang untukku . Sungguh aku tidak iklas kematiannya begitu tragis .Ingin rasanya kubunuh orang yang telah menabraknya namun apa dikata
ternyata oarng yang menabraknya itu adalah kakakku sendiri. Akupun pingsan seketika
mendengar orang-orang berbisik bahwa Kak Alan yang menabraknya .
Rinduku semakin penat dilelap bayangannya yang hilang sebelum sempat kugenggam. Kini tinggal kenangan yang perihnya tak terlupakan…..
***
Prasasti Bumi Rua Jurai 2008
---------------------------------------------
Oleh : YAN JEPE SANG EDUKASI
---------------------------------------------
“ ADA SEONGGOK JIWA MELAYANG
JATUH
PUN IA MASIH SEMPAT MENGGAYUT ASA
MENUNGGU ASTA SUCI KAN MERENGKUHNYA
LEMBAR JIWAKU PUTIH
KOSONG
TAK TERSENTUH BELAIAN ASTA MAHA INDAH
ADA YANG TERLEPAS
TERCECER
TAK MAMPU KUUTUHKAN KEMBALI “
Bila setelah membaca rangkaian kata diatas kamu mendapatkan “ sesuatu “ , maka yakinlah bahwa “ sesuatu “ itu kamu dapatkan karena adanya “ sesuatu “ diluar empiris kita yang memberi Rahmat dan Karunia.. Sebaliknya bila kamu tidak mendapatkan “ sesuatu “ , maka tetap yakinlah bahwa pencipta rangkaian kata diatas bukanlah pemberi “ sesuatu “ .
Begitu penasaran berungkali tulisan itu kubaca didalam surat yang diberikan padaku oleh seseorang yang selama ini telah membuatku fall in love. Dia adalah Kak Tevin mahasiswa fakultas tehnik Sipil semester akhir yang kebetulan teman akrab kakaku Alan. Karena seringnya dia kerumah belajar bersama dengan kakakku membuat hatiku terpaut. Dan sepertinya dia juga menaruh perhatian padaku, meskipun belum pernah mengungkapkannya.
Hubungan dia dengan keluargaku sangat akrab sudah seperti anggota keluarga saja,selain sering diajak makan bersama juga bila keluargaku ada acara tamasya keluar kota maka dia selalu diajak .Maka tak heran jika hubunganku dengannya terjalin baik .Dan kami sering melakukan jalan bersama dari mulai jalan – jalan ke Mal ataupun makan bersama di Restoran Pizza .Entah sudah berapa kali kami saling kirim surat untuk sekedar curhat
namun surat yang terakhir ini membuatku ada sesuatu yang mengiris hatiku. Sungguh suatu rangkaian kata yang teramat bermakna yang tak mampu kuartikan sehingga membuatku penasaran.
Aku hanya bisa menduga tentang diri Kak tevin. Apakah pernah putus cinta atau ditinggal seseorang yang teramat berarti didalam hidupnya. Atau kemungkinan karena ditinggal pergi untuk selamanya kedua orang tuanya dan satu adik perempuannya. Karena gempa Liwa yang telah merenggut keluarganya?. Peristiwa alam yang sangat memilukan telah merenggut orang yang selama ini menjadi tumpuhan hidupnya..Semua tanya itu menjejali pikiranku. Kak Tevin berjuang sendiri untuk menghidupi diri sendiri dan meneruskan kuliahnya dengan biaya yang dia cari sendiri. Dia kuliah sambil bekerja di sebuah perusahaan kontraktor bangunan .Sungguh luar biasa tekadnya dan itulah salah satu yang membuatku jatuh hati.
***
Pagi ini mata kuliah Hukum Perdata kosong karena dosennya tidak datang hanya asisten dosen yang menggantikannya dan memberikan literature untuk di foto kopi agar dipelajari dirumah. Maka kamipun membubarkan diri keluar kelas. Kita tidak perlu protes sebab itulah bias dari globalisasi. Dimana guru Umar Bakrie sudah menjadi bisnismen. mana cukup mengandalkan gaji dosen ?
Makanya perlu kreatifitas, nyambi sana nyambi sini dengan part time job dapat mendukung perekonomian keluarga. Masalah dedikasi , loyalitas telah membaur dalam kepintaran mengalokasikan waktunyauntuk mendapatkan tambahan penghasilan.
Untuk mengisi kekosongan waktu sambil menunggu jam mata kuliah berikutnya, maka kulangkahkan kakiku bersama teman karibku Rania ke kantin untuk mengisi perut keroncongan karena tadi pagi gak sarapan.
Ditengah asyiknya aku menyantap semangkok mie ayam tiba – tiba datang dari arah belakang .” hai girl ! “ sapanya dengan suara yang khas yang selama ini kukenal akrab ditelingaku. Siapalagi kalau bukan si idaman hati Kak Tevin, yang langsung mengambil kursi duduk disamping kiriku . “ Mang nasi goreng satu !” teriaknya kepada Mang Dul pemilik kantin..
“ Belum sarapan ya Kak ? “ tanyaku sambil mengelap pinggiran mulutku pakai tissue karena terkena saos sambel. “ Udah tadi sarapan angin ..” jawabnya senyam senyum.
“ Gak ada kuliah Kak ? “ tanyaku kemudian. “ Ada sih, cuma kalau perut kosong mana bisa konsentrasi mendengar kutbah sang dosen” . “ Emang kuliah subuh pakai kutbah ? “
selang Rania yang dari tadi asyik makan bakso yang duduk disamping kananku.
Ya gitulah ! Sebab kita ini sebagai mahasiswa seperti pesilat yang harus nurut dicekoki
ilmu oleh sang Suhu biar kelak jadi pendekar mumpuni di dunia persilatan. Begitu pula mahasiswa dijadikan sarjana yang siap pakai, walaupun nyatanya sebaliknya tinta hitam tertempel dijidatnya bahwa sarjana baru tidak siap pakai. Persepsi ini realitasnya dipertanyakan.
Kalau benar , sungguh sangat menyedihkan bahwa sarjana baru telah mengalami degradasi intelektualitasnya “ begitu antusiasnya dia bicara selayaknya memberi nasehat kepada kami. “ Udah deh Kak makan dulu tuh ! “ pintaku setelah Mang Dul mengantarkan sepiring nasi goreng pesananya. Dan diapun langsung menyantapnya
penuh semangat , mungkin sudah teramat lapar tak tertahankan.Akupun sementara asyik menghabiskan mie ayamku yang tinggal beberapa sendok.
“ Justru itu Kak tantangan kita untuk menghapus predikat sarjana tak siap pakai “ kataku kemudian setelah menghabiskan makananku. “ Bagus kalu kamu memiliki keyakinan itu, semoga kelak kamu menjadi sarjana Hukum yang berani membela yang benar dan menghukum yang salah. Jangan sampai salah kaprah menggadaikan kebenaran dengan iming-iming materi. Sebab sekarang sulit memilih dan memilah antara baik buruk sudah saling terkait.”
***
Bergantinya sinar mentari menjadi sinar rembulan menyeret pula sang waktu bergulir hingga tiada terasa sudah beberapa bulan berlalu, namun aku belum menemukan makna rangkaian kata-kata yang telah ditulis Kak Tevin pada surat terakhirnya. Sampai pada sore itu aku bertemu kembali diperpustakaan campus lalu kita mengambil tempat duduk
disudut ruangan .Sambil membolak balikan buku Tata Hukum Pidana kuberanikan diri untuk mengorek penjelasanya. “ Kak jelasin dong apa makna rangkaian kata yang ditulis
disurat terakhir itu ? “
“ That’s life and life is a puzzle. The puzzle which has no answer is dictiornary or encyclopedia is Love. Because the answer is only found in the unframe transparent mirror in the deep heart. And only dream that I would find “ jawabnya sambil memandangiku penuh arti. Akupun terkesimah sesaat kemudian sambil memperhatikan bola matanya yang menyimpan sesuatu. Kupahami maksud kata – katanya . “ Belum saatnya tiba Kak “
mulutku berkata bergetar menahan gejolak ada sesuatu yang menusuk nusuk dadaku.
“ Ya, sebab aku sering terhenti dipersimpangan jalan kemana sebaiknya kakiku melangkah. Ada keraguan yang menyendati keinginanku.” dengan sedikit sendu dia seakan ingin melepaskan sesuatu beban entah apa aku belum tahu.
“ Kak Tevin belum menemukan jalan atau belum bisa meyakinkan diri untuk memastikanya ? “ tanyaku kemudian kala kulihat ada keraguan disembunyikan dibalik raut wajahnya.
“ Ada jalan yang ingin kutiti namun aku masih termangu tuk melangkahnya “ Kulihat dia menghela nafas panjang.
“ Cobalah Kakak melangkah pada jalan yang diyakini ada sesuatu yang dapat ditemukan keoptimisan hidup selanjutnya . Perlu kubantu untuk menemukannya ?”.Akupun menawarkan diri .
“ Apa kamu yakin bisa membantuku ? “ jawabnya sambil menyungging senyuman yang aduhai manis sekali. “ I will try ! “ jawabku meyakinkanya.
“ Kalau begitu tanyalah pada hatimu paling dalam, adakah kamu menyimpan sesuatu itu?
Sebelum sempat aku menjawabnya dia telah beranjak dan langsung pamit untuk urusan lain dan meninggalkanku sendiri yang masih terbengong- bengong bingung mengartikan makna kalimatnya yang barusan terucap tadi. Memang dia penuh misteri dan aku telah terjerat dalam lingkaran simpati yang kucipta sendiri.
***
Ternyata memulai sesuatu keinginan tidak semudah kaki melangkah, masih ada keraguan yang menghambat niat manusia. Begitulah yang terjadi padaku yang berharap dapat menjalin benang-benang kasih bersama Kak Tevin untuk mengisi lembaran hidup yang masih putih. Tak terduga malam minggu ini sungguh teramat berkesan karena Kak Tevin
mengajakku dinner di Resto Blue Sky yang cukup terkenal dikota ini. Tempat kencanya para elite pergaulan kawula muda, karena tempatnya prestisius sungguh bergengsi.
Tentunya harus pesan meja dulu sebelumnya agar dapat tempat sesuai yang diinginkan.
Kamipun sudah duduk disudut remang dan menu sudah dipesan, beberapa saat kami saling diam. “ Tania, sudah kamu temukan sesuatu itu ? “ tanyanya setelah menghembuskan asap rokoknya diudara. “ May be yes if it’s a love “ jawabku deg-degan entah kenapa malam ini tidak seperti malam-malam yang lalu, kurasakan gejolak dihati ini makin menggebu. “ Listen Tania, When I see you for the first make me falling in heart. I hope you know exactly how I feel… and I want to be with you in the sunnys days. Would you mind being my some one ? “ sambil memegang kedua telapak tanganku dia menatap mataku dan akupun tak mampu menjawabnya . Oh my God ! Inilah saat yang kunantikan selama ini. Akupun ingin bersamamu dalam hari-hari yang ceria batinku mulai berbunga-bunga. Ada setetes air bening mengalir dari sudut mataku dan kubiarkan ketika jemarinya menyaput air mata dipipiku. Air mata keharuan telah luruh disertai kelegaan hati yang menemukan jawaban.. Malam ini sungguh menjadi malam yang sangat berarti dalam hidupku akan kuukir didinding hati agar tak terlupakan.
Malampun telah berganti pagi kujelang hari penuh keceriaan selimuti hati dan kala matahari sepenggalah tiba-tiba ada kiriman paket bunga mawar merah disertai segulung kertas terikat ditangkainya. Kuterima dengan hati berdebar debar dari siapa gerangan ?
Ternyata dari Kak Tevin langsung kuciumi harumnya aroma semerbak dan segera kubuka gulungan kertas yang menyertainya. Mulai kubaca apa yang tertulis
Tania yang baik,
Nyatanya tak mudah merengkuh sesuatu dalam hati yang gundah, meski aku telah merangkaki kemarau panjang bersama asa yang kugayutkan pada ranting kering patah.
Aku terjerembab dengan wajah berhias debu, pun aku masih berusaha menggapai gapai
Tiba – tiba kamu datang mengulurkan setetes embun kasih yang tulus terpancar dari sinar matamu. Kurasakan itu sebagai suatu anugerah tak ternilai…
Tania yang baik,
Nyatanya aku telah menemukan sesuatu yang kucari selama ini ada dalam dirimu.
Sesuatu sinar penerang yang menuntunku didalam kegelapan.
Biarkanlah aku bersamamu menyusuri jalan terjal berliku dan jangan ada yang mengusik selagi bahagia menemukan oase dipadang gersangku yang lama kerontang. Kini menjelma kesejukan membelaiku selembut cinta yang teduh dipelabuhan hati yang damai
Dari yang menyayangimu , Tevin.
Deg ! sesaat detak jantungku terhenti dan ada sesuatu yang menyeruak keluar dari dadaku melayang kelangit mengawan membawa jiwaku , kurasakan diri ini menjadi ringan melangkahkan kaki tuk menemui secepatnya seseorang yang telah membuatku melambung tinggi…Kusibakan awan – awan dilangit angan nyatanya aku terhadang mendung menutupi pandangku menjadi gelap gulita dan tak terasa air mata begitu deras mengalir tertumpah menyirami bumi.Aku telah terhenti karena sejuta tangan menahanku untuk melangkah mendekat pada kerumunan orang yang berbaju serba hitam dan wanita berkerudung hitam. Jerit tangisku menyeruak kerumunan lalu lalang orang menatapku heran. Ku tak pedulikan karena kuharus temui meski yang terakhir kali.
Seseorang yang telah menyemai cinta dikehidupanku. “ Kak Teviiiiiiiiiiiiin !!!” teriaku histeris kala sebaris orang memikul keranda terus berlalu tanpa memperdulikanku.
Ternyata aku telah kehilangan seseorang yang teramat kusayang, hidupnya telah terenggut oleh Sang Pencipta. Dia tewas seketika dikala motornya tertabrak oleh sebuah
mobil yang melaju kencang dijalanan. Saat itu dia baru pulang dari tempat jasa kurir untuk mengirimkan seikat kembang untukku . Sungguh aku tidak iklas kematiannya begitu tragis .Ingin rasanya kubunuh orang yang telah menabraknya namun apa dikata
ternyata oarng yang menabraknya itu adalah kakakku sendiri. Akupun pingsan seketika
mendengar orang-orang berbisik bahwa Kak Alan yang menabraknya .
Rinduku semakin penat dilelap bayangannya yang hilang sebelum sempat kugenggam. Kini tinggal kenangan yang perihnya tak terlupakan…..
***
Prasasti Bumi Rua Jurai 2008


