MENYOROTI PREDIKAT “ JURU KUNCI “ UJIAN NASIONAL ( UN ) NTT , TA 2011/2012 Oleh : Yan Djoko Pietono *) Predikat “ Juru Kunci “ adalah sebuah predikat yang melegenda beraroma misteri. Sebuah predikat yang tidak mudah didapatkan begitu saja , kerana predikat itu sebuah “amanah “ dari leluhur biasanya turun menurun . Seperti “ juru kunci “ Gunung Merapi yang terkenal Mbah Marijan yang telah meninggal dengan penuh setia dalam pengabdiannya ketika gunung merapi meletus. Lalu juru kunci gunung Salak yang baru – baru ini membantu penemuan kecelakaan pesawat Sukhoi milik Rusia yang menghebohkan dunia dan banyak lagi “ juru kunci “ di gunung – gunung lain dan tempat-tempat lain.Kali ini predikat “ juru kunci “ untuk siswa – siswa yang mengikuti Ujian Nasional ( UN ) kembali melekat pada Bumi Flobamora Propinsi NTT , untuk kesekian kalinya siswa- siswi SLTA & SLTP masih yang terbawah diantara 33 Propinsi di Indonesia yang tidak lulus. Apakah predikat “ juru kunci “ ini akan turun menurun dari tahun ke tahun ? Sebuah pertanyaan menggelitik bagi dunia pendidikan di NTT. Siapakah yang tersinggung? Mudah-mudahan semua orang yang berkecimpung di dunia pendidikan merasa tersinggung .Namun jangan marah atau membela diri lalu saling menyalahkan !. Lalu siapa yang patut disalahkan ? Lebih baik kita “ gentle “ bahwa kita semua salah agar kita berintropeksi atas kesalahan yang kita lakukan untuk merefleksi kembali demi perbaikan & perubahan ke depan. Janganlah kita merasa bangga ada kenaikan persentasi ketidak lulusan dari tahun lalu dari pada tahun ini yang kenaikannya tidak signifikan, tapi secara nasional kredibelitas kita yang dipertaruhkan. Siapa yang mempertaruhkan dan siapa yang dipertaruhkan ?. Jangan pula menyalahkan anak didik kita atau membodohkan anak didik sebab wajar anak didik bodoh makanya mereka sekolah biar pintar.Mari kita menyalahkan diri kita sendiri selaku orang tua, selaku guru dan selaku pejabat yang terkait dunia pendidikan. Karena selaku orang tua, sudahkah membantu secara moril maupun materiil mendukung anaknya dalam belajar baik di rumah atau disekolah?. Selaku Guru, sudahkah optimal selama ini mengajar dan mendidik siswa- siswi disekolah ? Selaku Pejabat terkait, sudahkah tepat sasaran didalam mengambil kebijakan-kebijakan yang menunjang keberhasilan pendidikan di sekolah-sekolah ? 1.PERAN ORANG TUA. Anak adalah titipan Tuhan yang harus dirawat,dipelihara,dibesarkan,diberikan pendidikan yang layak sebagai generasi penerus keturunan dan generasi penerus bangsa.Sudah sewajarnya bila orang tua berperan aktif didalam pendidikan anaknya agar berhasil sesuai harapan.Masih banyak orang tua yang menyerahkan begitu saja pendidikan anaknya kepada sekolah, sehingga kurang perannya saat belajar anak dirumah.Coba dihitung berapa banyak waktu anak dirumah dan waktu anak disekolah. Sebaiknya orang tua merubah “mindset” bahwa pendidikan adalah tanggungjawab bersama demi kemajuan dan hasil yang sesuai harapan bersama.Disini sangat diperlukan pemahaman dan pengetahuan bagi orang tua untuk membantu pembelajaran anaknya dirumah. Mendidik anak sepenuh hati dan kenali anak dengan strategi efektif mendidik anak dengan pemahaman karakter hakiki anak. Karena masih banyak orang tua yang tidak memahami karakter hakiki anak sehingga tidak tahu bagaimana membantu anak didalam belajar dirumah. Dampingi anak didalam belajar dirumah sebab itu bentuk dari keperdulian dan kasih sayang agar anak lebih diperhatikan dan dibantu jika menenui kesulitan didalam belajar. Bagaimana jika orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak memiliki waktu untuk mendampingi anak dalam belajar? Jangan biarlkan waktu yang mengatur anda tapi andalah yang seharusnya mengatur waktunya.Lalu bagaimana dengan orang tua yang tidak mampu secara ilmu pengetahuan didalam pelajaran anak ? Masih ada jalan yaitu dengan mengarahkan dan membiayai anak untuk ikut program bimbingan belajar yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan atau Privat dirumah. Jangan pelit dengan harta demi masa depan anak karena lebih baik mewariskan ilmu dari pada mewariskan harta karena jika mewariskan harta sebanyak apapun harta yang anda wariskan tetapi jika anak anda “ bodoh “ maka harta itu akan habis seketika. Tapi jika anda mewariskan ilmu meski anda meninggal tanpa mewariskan sekecil apapun harta, maka anak anda masih bisa hidup dengan keilmuannya. 2.PERAN GURU . Guru adalah pendidik dan pengajar disekolah yang bertanggungjawab untuk mem-pintar-kan siswa. Sudah optimalkah guru didalam mendidik dan mengajar siswa disekolah ? Sebaiknya guru sadar bahwa kepintaran keilmuannya tidak cukup untuk bekal mem-pintar-kan anak didik. Karena kepintaran guru dalam disiplin ilmunya tidak menjamin bisa mem-pintar-kan siswa jika tidak memiliki ketrampilan mengajar yaitu “ learning skill “. Didalam proses belajar mengajar dibutuhkan “learning skill “ untuk mentranfer materi pelajaran kepada siswa. Bagaimana agar didalam proses transfer materi pelajaran bisa berhasil dengan optimal ?. Dibutuhkan strategi efektif meng”coaching “ siswa melaui pemahaman anak didik secara hakiki. Kenali dulu anak didik melalui gaya belajarnya ( learning strength ) , kenali Type kecerdasanya ( multiple intelligence ) dan kenali penggunaan Otak kanan/kirinya ( Right & Left Brain ).Guru masih harus kerja keras untuk mengemban tugas sebagai pendidik & pengajar di sekolah agar proses belajar mengajar berhasil sesuai harapan. Sebaiknya guru terus meng-upgrade diri didalam pengetahuan dan “ learning skill “ sesuai perkembangan era globalisasi dimana tehnologi informasi berkembang sangat pesat. Bagaimana guru mengajar didalam kelas yang siswanya memiliki variasi gaya belajar,type kecerdasan dan penggunaan Otak kanan/kirinya ?. Ini dibutuhkan “ technical approach “ yang tepat,efektif dan efisien agar siswa dapat menangkap materi pelajaran. Jangan hanya mengajar cukup menulis diwhiteboard hanya dengan spidol 1 warna tapi gunakan OHP/LCD/InFocus atau dengan system pembelajaran animasi, agar variasi intelegensi siswa dapat mudah memahami materi pelajaran.Bekali guru dengan cara mengajar menyenangkan ( learning fun way ) sebab jika suasana kelas menyenangkan maka siswa dalam kondisi nyaman ( gelombang otak kondisi Alfa) maka sangat mudah untuk menerima materi pelajaran.Bagaimana cara mengkondisikan siswa nyaman yaitu sebelum mulai materi pelajaran diberikan sebaiknya guru mengajak anak senam otak lebih dahulu atau ‘ brain refresh “sehingga siswa dalam kondisi gelombang otak Alfa , hal ini bisa dilakukan 5 menit sebelum materi pelajaran dimulai. Kedua bekali guru dengan metode mempelajari cepat, menghafal cepat dan menghitung cepat ( Fast Learning Method ) dengan pendekatan Mind Mapping Concept ( Konsep Pemetaan pikiran ). Ini sangat dibutuhkan kreatifitas guru didalam pendalaman materi sesuai keilmuannya. Karena metode ini sangat mudah dipahami dan dihafal oleh siswa jika guru bisa menciptakan metode ini. Menuju guru professional maka selayaknya selalu mengembangkan diri dengan mengikuti perkembangan dunia pendidikan yang semakin kompetitif. A. GURU PROFESIOANAL memenuhi kreteria –kreteria sebagai berikut : 1. Menumbuhkan inovasi belajar mengajar dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan disekolah. 2. Memotivasi atau mendorong kegiatan anak didik meningkatkan aktifitas dan kreatifitas sesuai dengan bakat,cita-cita yang dimilikinya, 3. Energik dan selalu berinovasi tinggi menciptakan tehnik – tehnik belajar dan mengajar yang cepat,tepat ,sederhana mudah dipahami dan tidak membosankan. 4. Kooperatif dan aspiratif terhadap keluhan/ masalah yang dihadapi anak didik dan mencari solusi yang cepat dan tepat. 5. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan & menarik dengan menggunakan multimedia,audio visual dan “ teaching aids “ lainya. 6. Mampu menciptakan siswa atau lulusan yang “ pintar “ dan “ samart student “. B. FAKTOR UTAMA KUALITAS GURU. 1. Kualitas dan kompetensi para guru. 2. Kurikulum yang komprehensif , integrative dan relevan ( link & Match ) serta pembelajaran kreatif. 3. Program study yang menjawab kebutuhan yang tepat riset dan pengembangan. 4. Government/pengelolaan yang professional ( Global Best Pratice ). 5. Tersedianya factor pendukung yang lengkap. 6. Kerjasama dan kolaburasi antar sekolah dan antar lembaga pendidikan. 7. Dll. C. LINGKUNGAN STRATEGIS DUNIA PENDIDIKAN. 1. Berdimensi global , dilingkungan yang bergejolak dan sulit diperkirakan. 2. Sangat dipengaruhi kemajuan Iptek yang sangat cepat dan pesat. 3. Suasana persaingan yang kompetitif berdimensi global dan sangat kompleks. 4. Mengalami saling ketergantungan yang semakin tinggi, menuntut kerjasama dan kolaburasi yang semakin baik. 5. Semakin memerlukan kompetensi yang majemuk yang kompleks seperti kepemimpinan,komunikasi,penyelesaian masalah, kecerdasan cultural,pemanfaatan tehnologi dll. 3. PERAN PEMERINTAH. Melalui Dinas Pendidikan,Pemuda dan Olah raga dimasing-masing Propinsi lalu terpecah lagi melalui Dinas PPO tingkat Kota/Kabupaten. Kebijakan-kebijakan yang diambil selama ini ,apakah sudah benar-benar tepat guna dan tepat sararan ?. Anggaran yang disediakan,apakah sudah memadai dan mencukupi ?. Seperti dana Try Out tahun ini, apakah dana sebesar itu sudah sesuai realisasinya? Tepatkah realisasinya ? Seperti pencanangan program “ GONG BELAJAR “ sudahkah serius penanganannya atau sekedar slogan ? Saya kira pemerintah dapat menjawabnya dan mengevaluasi kembali terhadap kebijakan yang sudah digariskan agar lebih mencapai sasaran sesuai harapan kita bersama. Kiranya pemerintah harus lebih terbuka dan menjalin kerjasama dengan para pakar pendidikan untuk menentukan kebijakan-kebijakan sekaligus membutuhkan “ input “ dari pemikiran para pakar pendidikan yang kompetensinya tidak diragukan. Sekedar saran sebaiknya pemerintah selain menyelenggarakan sertifikasi kompetensi bagi guru yang wajib dimiliki ,juga memperhatikan bagaimana meningkatkan kualitas guru didalam “ learning skill “ yang sangat diperlukan guru dalam proses belaja mengajar. Mau tidak mau para pejabat terkait harus lebih “ intropeksi “ sebagai bentuk perenungan terhadap kondisi pendidikan di bumi NTT . Ini masalah “ kredibilitas “ dan “ prestise “ daerah dimata nasional sebagia evaluasi untuk lebih memajukan dunia pendidikan yang masih menyandang “ juru kunci “ hasil Ujian Nasional ( UN ) .Kapankah predikat “ juru kunci “ ini akan kita wariskan kepada daerah lain ?Hanya ada satu tekad bersama antara orang tua,kepala sekolah,guru-guru dan pejabat terkait untuk “ menyinsingkan lengan baju “ menuju keberhasilan pendidikan tahun depan.Selamat berjuang semoga kami bisa membantu meski hanya doa Tuhan memberkati kita, Amin. “ Keunggulan untuk belajar lebih cepat dari competitor barangkali menjadi satu – satunya keunggulan kompetitif yang berkelanjutan “ *** _______________ *) Penulis adalah Pemerhati masalah pendidikan & Kepala Cabang LP3I Course Center Sudirman Kupang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar